Puluhan Karyawan Toko Kosmetik di Batam Kocar-kacir Dirazia BPOM

Anwar Sadat Guna 04 Desember 2018 19:37 WIB
kosmetik palsu
Puluhan Karyawan Toko Kosmetik di Batam Kocar-kacir Dirazia BPOM
Petugas BPOM Kepri menyita aneka jenis produk kosmetik di Avava Mall, Jodoh, Kota Batam, Selasa, 4 Desember 2018.
Batam: Puluhan karyawan toko kosmetik di Avava Mal, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kocar-kacir saat petugas BPOM Kepri menggelar razia kosmetik ilegal, Selasa, 4 Desember 2018. Dalam razia itu, petugas menyita puluhan ribu buah kosmetik ilegal dan diduga mengandung bahan berbahaya. 

Razia yang berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB tersebut langsung menyasar toko dan konter kosmetik di Avava Mal. Karyawan toko dan konter yang mengetahui kehadiran petugas BPOM langsung berhamburan. Mereka kabur takut diamankan petugas.  

Meski demikian, BPOM Kepri tetap menertibkan toko kosmetik di mal ini. Dalam operasi penertiban ini, puluhan ribu buah kosmetik ilegal atau tak memiliki izin edar dan tanpa melalui pengujian mutu dan keamanan dari BPOM disita untuk dimusnahkan. 


"Perkiraan kita, dari seluruh konter kosmetik yang ditertibkan hari ini, ada puluhan ribu buah kosmetik yang kami sita. Jenisnya beragam. Nilai ekonominya diperkirakan ratusan juta rupiah," ujar Kepala BPOM Kepri Yosef Dwi Irwan Prakasa saat ditemui di lokasi penertiban, Selasa, 4 Desember 2018. 

Bagi toko dan konter yang ditinggal kabur oleh karyawannya, kata Yosef, tetap dilakukan penertiban. Seluruh kosmetik maupun produk makeup ilegal tetap disita untuk keperluan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. "Tetap kami sita meskipun karyawannya kabur," tegas Yosef. 
 
Ia mengatakan, sejauh ini belum diketahui dari mana sumber kosmetik tersebut. Yosef mengaku masih mendalaminya. Namun yang pasti, kata dia, seluruh produk kosmetik yang disita BPOM tersebut tidak memiliki izin edar. 

Yosef menambahkan, tujuan razia ini untuk memutus mata rantai suplai maupun demand (permintaan) terhadap produk kosmetik ilegal. "Kami (merazia) dari hilir dulu agar bisa mengetahui dari mana sumber atau hulunya. Selain itu, kegiatan ini bertujuan melindungi masyarakat dari penggunaan kosmetik ilegal," ujarnya.  

Yosef menuturkan, dampak penggunaan kosmetik ilegal berbahaya bagi kesehatan kulit karena produk ini belum melalui evaluasi mutu dan keamanan. "Dampaknya tentu bervariasi, apalagi jika kosmetik tersebut mengandung merkuri. 

"Karyawan atau pemiliknya akan kami panggil ke BPOM. Mereka akan dimintai keterangan oleh PPNS. Jika dipanggil namun tak memenuhi panggilan, maka diberikan sanksi. Tentu ada tahapan sanksinya. Namun jika masih membandel maka diambil upaya hukum," tegasnya.  

Ratna, pemilik konter kosmetik di Avava Mall mengaku terdapat ratusan pieces kosmetik miliknya disita BPOM Kepri. Produk-produk tersebut diduga tidak memiliki izin edar dan uji mutu serta keamanan. 

"Jenisnya ada banyak. Seperti lipstik, aneka jenis makeup, pensil, dan lainnya. Perkiraan nilainya sekitar Rp10 juta," ujar Ratna. Ia mengaku baru enam bulan berjualan kosmetik di Avava. Dan baru kali ini dirazia BPOM Kepri. 

Saat ditanya dari mana dia mendapatkan kosmetik tersebut, wanita ini enggan berkomentar lebih lanjut. Ia hanya mengaku mendapatkan dari distributor. "Kami belinya dari distributor," ujarnya. 




(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id