Kapal Penyelundup Narkoba di Batam Pernah Jadi Target Operasi

Anwar Sadat Guna 10 Februari 2018 18:58 WIB
narkotika
Kapal Penyelundup Narkoba di Batam Pernah Jadi Target Operasi
Tim gabungan BNN, TNI AL, dan Bea Cukai temukan penyelundupan sabu 1 ton di Batam. (Medcom.id/Anwar Sadat Guna)
Batam: Kapal Sunrise Glory berbendera Singapura yang ditangkap jajaran KRI Sigirut-864 di perairan Selat Philips, perbatasan antara Singapura dan Batam kerap berganti nama setiap masuk ke wilayah persinggahan. 

"Dari hasil penyidikan TNI AL, terungkap bahwa kapal Sunrise Glory pernah berubah nama menjadi Panthom Ship saat berlayar di wilayah Singapura dan mengibarkan bendera Singapura. Tidak lama kemudian, kapal berubah nama lagi menjadi KM Sun De Man-66," ungkap Komandan Lantamal IV, Tanjungpinang, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ribut Eko Suyatno, di Lanal Batam, Sabtu, 10 Februari 2018. 

Ia mengatakan, aktivitas kapal ikan tersebut diduga bukan saja melakukan tindak pidana illegal fishing, tetapi juga diduga digunakan untuk mengangkut narkoba dan barang-barang selundupan lain. 


"Modus yang diduga digunakan kapal ini yaitu membawa narkoba dengan cara ship to ship,” kata Eko. 

Bahkan berdasarkan catatan Komando Armada Wilayah Barat (Koarmabar) TNI AL, kapal ini sebelumnya pernah menjadi target operasi (TO) Satgas 115 TNI AL karena diduga membawa barang selundupan dan narkoba.

Eko menambahkan, saat kapal ditangkap di perairan Philips, Rabu, 7 Februari 2018 sekitar pukul 15.30 WIB, nakhoda kapal tidak bisa menunjukkan dokumen resmi kapal tersebut. Dokumen yang dimiliki tidak sesuai ketentuan dan diduga palsu.

"Nakhoda kapal yakni Chen Chung Nan yang diperiksa saat itu, mengaku, kapal tersebut berlayar dari Malaysia menuju Taiwan. Namun setelah dicocokkan dengan dokumen port clearance yang ada, menunjukkan bahwa kapal tersebut berlayar dari Malaysia ke Thailand," ujarnya. 

Kemudian, saat petugas memeriksa bagian atas kapal ditemukan jaring trawl dan puluhan karung berisi narkotika jenis sabu seberat sekitar 1 ton. 

Sementara itu, kapten KRI Sigurot-864 Kolonel Laut Arrizona mengatakan, tak ada perlawanan dari keempat ABK ketika petugas melakukan penangkapan. Keempat ABK maupun nakhoda hanya berbelit saat diminta menunjukkan dokumen kapal. 

"Tetap dilakukan penangkapan, karena selain melanggar masuk wilayah teritorial Ibdonesia, dokumen kapal yang ditunjukkan nakhoda kapal diduga palsu," ujarnya. 



(LDS)