Pencarian 183 Penumpang KM Sinar Bangun Bakal Dihentikan
Personel Basarnas membawa sejumlah barang yang diduga milik penumpang KM Sinar Bangun di posko Pelabuhan Tigaras, Danau Toba, Simalungun, Sumatera Utara. (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi)
Medan: Proses pencarian 183 orang penumpang yang tenggelam bersama KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba rencananya akan dihentikan. Keluarga korban diminta untuk mengikhlaskan penghentian operasi SAR ini.

Kepala Kantor SAR Medan Budiawan membenarkan rencana tersebut. Tadi siang tim Basarnas telah berunding dengan seluruh keluarga korban dimediasi oleh Bupati Simalungun JR Saragih di Kantor Bupati. Pertemuan itu juga dihadiri tokoh agama, tokoh adat, tim Polri.

"Tadi kita telah mengadakan musyawarah dengan keluarga korban yang dimediasi bupati, masyarakat ramai, penuh. Pertemuan itu, menghasilkan bahwa masyarakat mengikhlaskan," jelas Budiawan, Minggu, 1 Juli 2018, malam.


Budiawan menyebutkan, pencarian akan dihentikan lantaran medan yang sulit. Kedalaman Danau Toba yang mencapai lebih dari 450 meter menjadi kendala tim. Berbagai alat canggih yang diturunkan bahkan tak begitu banyak membantu.

"Enggak ada lagi didatangkan alat. Kan sudah setuju. Sebenarnya itu kenapa kita ambil langkah mediasi ini, itu sudah selesai semuanya, kan sudah rela, enggak perlu lagi alat dari Singapura itu. Dari awal saya sudah ngomong kedalaman menjadi kendala, siapa yang sanggup, alat pun sudah kita datangkan semua," pungkasnya.

Baca: Bangkai KM Sinar Bangun Harus Ditemukan

Jika pencarian dan proses evakuasi dilanjutkan, tentu menurut Budiawan akan memakan waktu hingga berminggu-minggu. Dikhawatirkan, jenazah tak bisa dievakuasi secara utuh.

Menurut Budiawan, berbagai upaya dan kerja keras telah dilakukan tim gabungan untuk melakukan evakuasi. Akan tetapi, kata Budiawan, kekuasaan Tuhan tetap lah yang paling utama. Kemampuan manusia ada batasnya, dan tidak mampu melampau kekuasaan Tuhan.

"Akhirnya kembalilah kekuasaan Allah. Ada batas kemampuan manusia, kita tidak bisa melawan kekuasaan Allah. Bagaimanapun pengalaman saya di dunia, baru sekali inilah menghadapi danau yang kedalamannya lebih 400 meter. Danau Toba itu indah jangan dirusak, kalau tidak, ditelannya kita. Ini jadi pelajaran kalau main-main ke Danau Toba," paparnya.

Budiawan melanjutkan, kapan pastinya penghentian operasi pencarian, masih akan didiskusikan lebih lanjut. Selain itu, sejumlah keluarga korban yang hadir, katanya, bisa menerima rencana itu. Selain itu, tak jauh dari lokasi kapal tenggelam nantinya akan dibuat monumen kuburan massal.

"Intinya kita sudah berunding yang juga dihadiri tokoh agama, kita ikhlaskan lah, kita enggak bisa melawan kekuasaan Allah. Anggap saja kuburan massal itu. Warga kebanyakan setuju. Tapi nanti kita rapatkan lagi, apa langkah-langkah kita. Bupati juga berencana buat monumen di sana," bebernya.

Baca: KM Sinar Bangun tak Memiliki Izin Berlayar

Sebelumnya, tim Basarnas telah menemukan objek yang terindikasi merupakan Bangkai KM Sinar Bangun di kedalaman 450 meter. Di dalam kapal kayu ini diduga banyak penumpang yang terperangkap. Bahkan ditemukan juga beberapa jenazah dan sepeda motor ditemukan dalam kondisi masih utuh. 

Seperti diketahui, KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo (Samosir) tujuan Tigaras (Simalungun), Senin, 18 Juni 2018 sekitar pukul 17.30 WIB. Kapal kayu ini tenggelam sekitar 1 mil laut dari Pelabuhan Tigaras. 

Kapal tenggelam akibat kelebihan muatan. Sebab kapal mengangkut hampir 200 orang penumpang ditambah 60 unit sepeda motor. Padahal kapasitas daya angkut kapal hanya 40 orang dan tidak boleh membawa kendaraan.

Hingga kini total korban yang telah ditemukan yakni 21 orang di antaranya 18 dalam keadaan selamat, dan tiga orang lainnya dalam keadaan sudah tak bernyawa. Diperkirakan ada 183 penumpang yang belum ditemukan tenggelam bersama bangkai kapal. 





(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id