ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id (Dwi Apriani)

Banjir Kepung Palembang

Banjir di Sumatera
Dwi Apriani • 13 November 2018 14:06
Palembang: Banjir mengepung sejumlah kawasan di pusat hingga pinggiran Kota Palembang, Selasa, 13 November 2018. Banjir akibat guyuran hujan yang terus menerus pada tengah malam. 
 
Bukan hanya di wilayah sekitar anak sungai Musi, genangan air menyebar luas di sebagian besar Kota Palembang, termasuk di pusat kota bahkan jalan protokol dan kantor pemerintahan.
 
Genangan air terpantau di antaranya di Kecamatan Sukarami, Gandus, Kemuning, Bukit Kecil, Bukit Besar, Ilir Barat I, Alang-Alang Lebar dan sebagainya. Ketinggian genangan air tertinggi mencapai satu meter. Bukan hanya mengakibatkan kendaraan mogok dimana-mana, warga yang hendak bekerja dan sekolah pun terganggu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepala Kantor Basarnas Palembang, Berty DJ Kowaas mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai evakuasi di sejumlah lokasi di Kota Palembang.
 
"Personel yang diturunkan 8 orang dengan membawa peralatan SAR air seperti 1 unit LCR , tandu dan pelampung. Kita telah melakukan evakuasi mulai di bandara residence sekitar 60 KK, di seduduk putih ada 200 KK," ucapnya.
 
Sejauh ini, kata dia, belum ditemukan adanya korban. Hanya saja dari evakuasi, ada seorang nenrk bernama Nung (68 tahun) yang harus dibawa ke RS Hermina Palembang. Terkait dengan banjir di Kota Palembang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Kota Palembang dan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera (BBWS) VIII sudah terjun kelapangan untuk mengatasi genangan air yang terjadi di beberapa titik wilayah Palembang.
 
Wali Kota Palembang Harnojoyo mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya agar genangan air yang menyebar luas di sejumlah wilayah di kota Palembang cepat surut. Diantaranya dengan mengoperasikan mesin untuk menyedot beberapa genangan air, seperti di kawasan KM 7,5 dan Sekip Bendung.
 
"PU Sudah bergerak kelapangan bersama balai. Dan beberapa tempat akan disedot seperti di depan Punti Kayu KM7,5," ungkapnya.
 
Diterangkan Harnojoyo, genangan air yang terjadi hari ini, diakibatkan intensitas hujan dengan curah yag cukup besar dan itu tidak tertampung lagi akibat masalah sungai yang saat ini masih kita selesaikan. "Sungai Palembang mengalami sendimentasi akibat sampah dan limbah padat rumah tangga yang menumpuk. Kondisi genangan hari ini bisa lebih parah, jika kita tidak aktif menggalakkan gotong royong," ungkapnya.
 
Harnojoyo berharap masyarakat bisa lebih bersabar dan kedepan harus ada kesadaran masyarakat untuk sama-sama menjaga lingkungan. Karena genangan air seperti hari ini bisa kapa saja terjadi. Hal itu dikarenakan demografi Palembang yang hampir 53 persen adalah daerah rawa (perairan).
 
"Kami dari Pemerintah Kota Palembang minta masyarakat bersabar dan berharap masyarakat kedepan peduli terhadap lingkungan dan gotong royong terus digalakkan," imbuhnya. 
 
Saat ini juga, sambung Harnojoyo, Pemkot Palembang sedang melakukan upaya-upaya lain untuk meminimalisir terjadinya genangan akibat pasang surut maupun hujan. Diantaranya, pembangunan rumah pompa bendung dan tahun ini akan dilakukan pendalaman sungai sekanak agar debit air bisa ditampung.
 
"Tahun ini rumah pompa bendung kita targetkan selesai. Dan beberapa kolam retensi akan kita bangun," terangnya.
 
Untuk mengatasi sendimentasi atau pendangkalan sungai, Pemkot terus melakukan upaya restorasi. Seperti yang dilakukan pada sungai Sekanak.
 
"Jika sungai sekanak sudah direstorasi dan dikeruk, mudah-mudahan debit air dapat lebih lancar," terangnya.
 
Siswa Diliburkan 
 
Sementara itu, dampak dari genangan air yang terjadi di mana-mana mengakibatkan banyak sekolah yang meliburkan siswanya. Dinas Pendidikan Kota Palembang memberikan hak kepada sekolah yang mengalami kebanjiran untuk meliburkan siswanya hingga banjir mereda.
 
Kepada Bidang SMP Disdik Kota Palembang, Herman Wijaya mengatakan pihaknya sudah memberikan imbauan kepada seluruh sekolah untuk mengambil kebijakan tersebut. "Bagi sekolah-sekolah dan rumah-rumah siswa banjir, sekolahnya boleh di fakultatifkan sampai banjirnya mereda. Dan berlaku juga untuk SD dengan ACC dari Kadin & Kabid SMP," kata dia.
 
Sampai saat ini, ucap Herman, hanya baru beberapa sekolah yang melaporkan bahwa sekolahnya mengalami banjir seperti di SMP 42 di kawasan Lemabang Jalan Gotong Royong, SMPN 38 Mato Merah, SMPN 16 Plaju, SMPN 30 Plaju.
 
"Masih banyak yang belum melaporkan. Tapi sudah kita instruksikan bahwa mereka bisa memberikan libur sementara kepada siswanya," tandasnya.
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif