KLB Rubella Berpotensi Terjadi di Babel
Seorang petugas kesehatan menunjukkan vaksin MR dalam pencanangan imunisasi massal MR di Kupang, 1 Agustus 2018, MI - Palce Amalo
Pangkalpinang: Kejadian luar biasa (KLB) Rubella berpotensi terjadi di Bangka Belitung. Itu bisa saja terjadi bila target pemberian vaksin Meales Rubella (MR) tak mencapai 95 persen di provinsi tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangka Belitung Mulyono Susanto mengatakan vaksin MR diberikan kepada anak-anak. Tujuannya, anak-anak kebal dengan virus tersebut.

Mulyono menyebutkan pemerintah menargetkan capaian pemberian vaksin MR di Babel sebanyak 95 persen. Target itu harus dipenuhi pada September 2018.


"Kami optimistis. Tapi saat ini capaiannya baru 27,70 persen," kata Mulyono di Pangkalpinang, Kamis, 13 September 2018.

Pemerintah provinsi dan Majelis Ulama Indonesia Babel terus menyosialisasikan kampanye imunisasi MR. Mulyono mengaku sulit mengampanyekan pemberian vaksin. Tapi, pemerintah akan terus berkampanye agar para orang tua mau memberikan vaksin pada anak-anak mereka.

Di Babel, kata Mulyono, sebanyak 370 ribu anak menjadi target pemberian imuniasi MR. Anak-anak tersebar di enam kabupaten dan kota.

Sementara Gubernur Babel Erzaldi Rosman Djohan  menilai, masyarakat saat ini belum mendapatkan informasi yang jelas dan benar mengenai vaksin MR, oleh karenanya harus gencar dilakukan sosialisasi, dan Erzaldi juga meminta agar MUI mengerahkan seluruh ulama dan pemuka agama untuk membantu sosialisasi, termasuk dalam khutbah di masjid.

Lihat video:

"Kita harus buat strategi, cari sekolah mana atau daerah mana yang tantangannya besar, datangi disana, berikan testimoni, viralkan, ajak Humas juga untuk membuat video yang sudah terkena Rubella ini bagaimana, share kemana-mana agar viral dan cepat diketahui masyarakat," ulasnya.

Erzaldi mencontohkan, jika ada masyarakat yang menyebutkan  zaman dulu tidak divaksin pun sehat sampai ratusan tahun. Tapi kondisi masa kini berbeda. Bahan makanan yang dikonsumsi tidak sehigienis saat lalu.

"Zaman dulu beda, belum ada virus, sulu enggak ada sakit jantung, karena makan sehat cara makan sesuai sunnah Rasul, kalau sekarang sudah banyak, contoh di pesta, makan berdiri pakai tangan kiri, kalau zaman rosul dulu, makan minum duduk, menggunakan tangan kanan," urainya.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menjelaskan campak dan rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus. Campak dan rubella sangat menular. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi campak dan rubella, atau yang belum pernah mengalami penyakit tersebut berisiko tinggi tertular.

Baca: Masyarakat Diimbau Sadar Bahaya Campak dan Rubella

Gejala penyakit campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). Sedangkan gejala penyakit rubella tidak spesifik, bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri persendian, mirip gejala flu.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti diare, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Data menunjukkan pada 2000, lebih dari 12 juta anak di dunia meninggal karena komplikasi penyakit campak. 

Sedangkan rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak. Namun, bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut dikenal sebagai sindroma rubella kongenital yang meliputi kelainan pada jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian dan keterlambatan perkembangan.

"Penyakit campak dan rubella tidak dapat diobati. Pengobatan yang diberikan kepada penderita hanya bersifat supportif. Tetapi kedua penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi. Pemerintah telah memberikan imunisasi campak sebagai salah satu program imunisasi nasional," ujar Nila.

Lihat video:

 



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id