Ilustrasi/Medcom.id.
Ilustrasi/Medcom.id. (Anwar Sadat Guna)

Industri Pariwisata Kepri Terpuruk

pariwisata pariwisata indonesia pariwisata daerah
Anwar Sadat Guna • 11 Februari 2019 16:44
Batam: Belasan asosiasi pelaku pariwisata di Provinsi Kepri menggelar aksi keprihatinan atas tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar yang berlaku saat ini. Aksi keprihatinan yang diikuti ratusan pengurus asosiasi ini digelar di gedung DPRD Batam, Senin, 11 Februari 2019. 
 
Aksi diawali dengan pawai keliling dimulai dari depan Harris Hotel menuju Kantor DPRD Batam. Pawai ini terbilang unik karena peserta aksi mengenakan busana karnaval dan juga membawa alat-alat musik. 
 
Aksi dan pawai ini menarik perhatian warga dan pengendara. Sesekali peserta mengumandangkan yel-yel, dari Batam untuk indonesia. "Penetapan tarif pesawat dan bagasi berbayar memukul industri pariwisata Kepri dan Batam khususnya," ujar Irwandi Azwar, Ketua DPD Asosiasi Pelaku industri membuka orasinya. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan, saat ini industri pariwisata terkena dampak dari kebijakan maskapai menaikkan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar. Hampir seluruh sektor di industri pariwisata, kata dia, terkena dampaknya. 
 
"Persentase penurunan di sektor industri pariwisata Kepri berada di angka 65 persen. Bahkan tingkat hunian hotel saat ini hanya sekitar 30 persen. Artinya, semua sektor terkena dampaknya," ujar Irwan. 
 
Jika hal ini terus dibiarkan, kata dia, dapat berdampak pada perekonomian di Kepri. "Kami mendesak pemerintah, dalam hal ini kementerian terkait dapat mengintervensi kebijakan yang diberlakukan maskapai," tegasnya. 
 
Surya, perwakilan Asosiasi Pariwisata Bahari (Aspabri) Kepri menambahkan, sektor pariwisata di Kepri saat ini mulai stagnan seiring pemberlakuan bagasi berbayar dan tingginya harga tiket pesawat.   
 
"Kami menyampaikan kondisi riil pariwisata Kepri saat ini. Mulai menurun. Banyak kunjungan wisata ke Batam terpaksa dibatalkan karena penetapan tarif berbayar dan harga tiket pesawat tinggi," ujarnya. 
 
Sumiati Marzuki. Wakil Ketua Asosiasi Manager HRD Kepri menambahkan, menurunya industri pariwisata di Kepri saat ini juga berimbas pada  SDM di sektor pariwisata. Banyak karyawan tidak dipekerjakan karena sepinya wisatawan yang berkunjung ke Kepri. 
 
"Dampaknya dirasakan di semua sektor. Tak hanya di sektor SDM, industri UMKM juga terkena dampaknya. Orderan produk UKM sepi karena menurunnya kunjungan wisatawan," ungkapnya.   
 
Pawai dan aksi keprihatinan di Kantor DPRD Batam disambut Ketua DPRD Batam Nuryanto, Ketua Komisi II Edward Brando, dan Anggota DPRD Batam Uba Ingan Sigalingging. Nuryanto juga menyampaikan keprihatinannya terhadap sektor pariwisata di Kepri, khususnya Batam.
 
"Ini merupakan keprihatinan kita bersama. Banyak sektor pariwisata yang terkena dampaknya. Hal itu bisa kami rasakan. Harus segera ada tindakan penerintah agar bisa mengintervensi kebijakan bagasi berbayar dan tingginya harga tiket pesawat saat ini," ujarnya.
 
Pihaknya akan segera menindaklanjuti pernyataan sikap belasan asosiasi ini. "Paling cepat besok segera kami menyurati Kementerian Perhubungan melalui Gubernur Kepri agar bisa mengatasi permasalahan ini. Harapan kami bagasi berbayar dan harga tiket pesawat dapat ditinjau lagi," ujarnya. 
 
Asosiasi yang menggelar aksi keprihatinan ini di antaranya, Asosasi Pelaku Pariwisata I donesia (ASPPI), Aspabri, PHRI, Asita, Insan Pariwisata Kepri (IPI) Kepri, Human Resort Hotel Manager Assosiation (HRHMA), dan asosiasi lainnya. 

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi