Juru warta menuntut pencopotan Komandan Lapangan Udara Soewondo Medan dan Kepala Staf Angkatan Udara. Tuntutan itu sebagai buntut penganiayaan oleh prajurit TNI AU terhadap dua wartawan saat meliput demo warga Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, kemarin.
Baca: Wartawan Dianiaya Prajurit TNI AU di Medan Polonia
"Kita mengecam keras kejadian yang menimpa dua teman kita. Kita meminta kepada pimpinan tertinggi TNI AU untuk bertanggungjawab," kata Jonris Ketua Forum Jurnalis Medan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Dia meminta Presiden Joko Widodo memberikan perhatian khusus pada kemerdekaan pers. Kejadian kekerasan terhadap media yang terjadi jelang hari Kemerdekaan Indonesia menjadi gambaran kemerdekaan belum dimiliki oleh media.
"Ini pertanda belum adanya kebebasan pers. Kasus ini harus segera diselesaikan," tandasnya.
Demonstrasi diikuti beberapa elemen pewarta. Seperti Aliansi Jurnalis Independen Medan, Persatuan Wartawan Indonesia Sumut, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Sumut. Lalu, Forum Jurnalis Perempuan Sumut, dan Aliansi Media Cyber Indonesia Sumut, serta perwakilan perusahaan tempat dua korban kekerasan bekerja.
Kekerasan yang dialami wartawan bermula saat meliput unjuk rasa soal sengketa lahan. Warga memblokir jalan, berunjung bentrokan dengan prajurit TNI Angkatan Udara di Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia.
Baca: Wartawan Dianiaya, Jurnalis Solo Minta Jokowi Turun Tangan
Array A Argus wartawan Tribun Medan dan Andri Safrin Purba kontributor MNCTV Medan yang meliput menjadi korban kekerasan prajurit TNI AU.
"Awalnya aku mau wawancara ibu-ibu warga sana. Lagi duduk di sebelah ibu itu, aku ditarik, dihantam kayu broti itu, diseret-seret dan dipijak-pijak," kata Array.
Meski telah berteriak dan menunjukkan identitas sebagai wartawan, menurutnya, petugas tidak menggubris. "Orang itu bilang, 'enggak urus. Saya enggak urusan itu.' Mereka terus menyeret serta menginjak-injak," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
