Algojo (eksekutor) sedang mencambuk salahsatu terdakwa di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh.--MTVN/Nurul--
Algojo (eksekutor) sedang mencambuk salahsatu terdakwa di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh.--MTVN/Nurul-- (Nurul Fajri)

Salahi Prosedur, Jaksa Tegur Algojo Saat Proses Cambuk

hukuman cambuk
Nurul Fajri • 23 Mei 2017 16:45
medcom.id, Banda Aceh: Seorang petugas dari Kejaksaan Negeri Banda Aceh berulang kali menegur algojo (eksekutor) karena dinilai salah dalam mencambuk. Sedikitnya ada lima kali hukuman yang dihentikan dan petugas memberikan arahan pada algojo.
 
Teguran pertama dilayangkan jaksa saat eksekusi dilakukan pada Ferawati, 23, terdakwa kasus ikhtilat (mesum). Pada cambukan ke tujuh, petugas sempat menghentikan eksekusi karena algojo tidak memukul sesuai standar operasional.
 
Kesalahan prosedur pencambukan yang dilakukan algojo kembali berulang saat Said Ibrahim, yang juga terdakwa kasus ikhtilat. Said terlihat memprotes karena algojo menyabetnya dari bagian atas hingga mengenai lehernya. Dia terlihat marah dan menunjuk ke arah algojo tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akibatnya, pihak kejaksaan terpaksa memanggil algojo lainnya untuk menggantikan eksekutor Said. Padahal eksekusi baru berjalan sebanyak tiga kali. Saat diganti, ratusan warga yang memadati di luar pagar langsung berteriak. Namun proses pencambukan berjalan lancar hingga selesai.
 
Kesalahan prosedur kembali terulang saat pelaku liwath (hubungan sesama jenis), Muhammad Taufik, 24, tengah menjalani hukuman. Petugas kejaksaan sempat menghentikan hukuman dan kembali menegur algojo seraya memeragakan posisi rotan yang harus sejajar dengan bahu.
 
Taufik didakwa 83 kali deraan rotan setelah dikurangi masa tahanan dua bulan. Pihak kejaksaan menyiagakan tiga orang algojo yang secara bergantian menyabetkan rotan ke badan terdakwa. Namun hanya dua algojo yang diizinkan mengeksekusi Taufik.
 
"Algojonya terlalu bernafsu memukul terdakwa, makanya banyak kali kesalahan," ujar Dedi, warga yang menyaksikan uqubat cambuk, Rabu 23 Mei 2017.
 
Senada dengan Puteri Mentari Bengi, 20, salah seorang mahasiswa merasa kasian pada pelanggar karena ada algojo yang tidak sesuai prosedur. Dia mengharapkan para eksekutor hukuman cambuk lebih dilatih lagi agar tidak lagi melakukan kesalahan.
 
Sementara itu, Kepala Satpol PP dan WH Banda Aceh, Yusnardi mengatakan dalam eksekusi kali ini pihaknya telah menyiapkan 10 algojo. Semua algojo sudah mendapatkan pelatihan bagaimana cara mencambuk dan mengayunkan rotan bagi para terdakwa. 
 
Sesuai aturan, algojo tidak dibenarkan untuk melonggarkan, melingkarkan tangan dan menarik ancang-ancang terlalu jauh untuk menambah kekuatan cambukan. Jika terjadi, kata dia, jaksa wajib menegur.
 
"Jadi algojo itu lengannya harus lurus dan tidak boleh ada gerakan lain untuk menambah kekuatan dalam mencambuk terdakwa. Kekuatan cambukan hanya bertumpu pada kekuatan pergelangan tangan," ujar Yusnardi.
 
Eksekusi cambuk dilakukan di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Empat pasangan ikhtilat yaitu Said Ibrahim, Wahyunita, Musyawir, Ferawati, Hendri Saputra, Agus Tiani, Muammar Khadafi,  dan Feni Mariska.  Masing-masing dicambuk antara 21 hingga 29 kali cambukan. Sementara 1 pasangan gay juga dihukum yaitu Muhammad Taufik dan Muhammad Habibi.
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif