Algojo (eksekutor) sedang mencambuk salahsatu terdakwa di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh.--MTVN/Nurul--
Algojo (eksekutor) sedang mencambuk salahsatu terdakwa di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh.--MTVN/Nurul-- (Nurul Fajri)

MPU: Hukum Cambuk tak Melanggar HAM

hukuman cambuk
Nurul Fajri • 23 Mei 2017 20:50
medcom.id, Banda Aceh: Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh memastikan penerapan hukuman cambuk tak melanggar Hak Asasi Manusia. Sebelum dicambuk, para pelanggar sudah menjalani proses hukum yang sangat panjang hingga disidangkan di Mahkamah Syariah. Dalam persidangan juga menghadirkan saksi dan barang bukti.
 
“Semua itu sudah berjalan sesuai protap dan dilaksanakan sesuai prosedur yang tertulis dalam Qanun,” kata Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Abdul Gani Isa, kepada Metrotvnews.com, Selasa, 23 Mei 2017.
 
Abdul juga menegaskan, proses hukuman cambuk dilakukan di muka umum, bukan di tempat tersembunyi. Bahkan para terdakwa didampingi para jaksa dan tim medis yang bersiaga mengecek kondisi kesehatan terdakwa sebelum dicambuk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hukuman secara syariat Islam di Aceh, kata Abdul, sudah berlangsung selama 15 tahun. Aceh merupakan satu-satunya provinsi yang diberikan kewenangan khusus untuk menjalankan syariat Islam di Indonesia.
 
Hal yang sama dikatakan Kepala Satpol PP dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, Yusnardi. Hukuman cambuk sudah diatur dalam Qanun Nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat yang mengacu pada Al-Quran dan Hadis. 
Qanun tersebut sudah menjadi dasar hukum yang kuat untuk mendakwa para pelanggar syariat Islam, kata dia. Setidaknya ada 10 hal yang diatur dalam Hukum Jinayat, termasuk liwath (hubungan sesama jenis) dan pelecehan seksual.
 
“Masyarakat luar mungkin merasa asing, karena tidak diatur dalam dasar hukum mereka. Jadi mari hargai dan hormati kalau ini adalah kearifan lokal di Aceh,” ungkap Yusnardi.
 
Siang tadi, 10 pelanggar Qanun Jinayat dihukum cambuk di muka umum, di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Dua orang merupakan pasangan sesama jenis. Yakni, MT dan MH.  
Mereka dicambuk 83 kali deraan.
 
Pasangan lain yang dihukum cambuk adalah Mu, 24, dan Ve, 22. Keduanya dicambuk 28 kali. Selanjutnya SI, 25, dan Wah, 27, didera 23 kali. Kemudian, HS, 27, dan AR, 21, dicambuk 28 kali. Pasangan terakhir ialah MK, 27, dan FR, 29, dicambuk 29 kali.

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif