Aktivitas tambang di perairan pantai di pulau bangka mulai di keluhkan wisatawan.(Rendy Ferdiansyah)
Aktivitas tambang di perairan pantai di pulau bangka mulai di keluhkan wisatawan.(Rendy Ferdiansyah) ()

Pantai di Bangka Rusak akibat Aktivitas Tambang Laut

pariwisata
02 Juli 2019 16:33
Bangka: Wisatawan lokal yang berlibur bersama keluarga mereka mengeluh karena kondisi air di sejumlah objek wisata pantai di Pulau Bangka yang tidak jernih. Air laut di pantai yang kini berwana cokelat, keruh, dan kotor membuat wisatawan tidak bisa menikmati bermain air dan mandi.
 
Meski begitu, ada juga wisatawan yang nekat mandi di pantai. Akibatnya, mereka mengalami gatal-gatal. Hal itu disebabkan hampir di seluruh perairan, seperti Pantai Air Anyir, Rebo, hingga pantai di Sungai Liat sudah terkontaminasi aktivitas penambangan pasir timah baik dari tambang legal maupun ilegal.
 
Seorang wisatawan, Lukman, mengatakan setahun lalu, sebelum aktivitas penambangan pasir timah di laut marak, air laut masih jernih. Kala itu, wisatawan kerap mandi dan bermain air ketika berwisata ke pantai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, sekarang, kondisi air memprihatinkan dan berwarna cokelat. Dia mengaku takut dan tidak mengizikan anak-anaknya mandi di pantai. “Sayang sekali, pantai yang indah seperti Pantai Takari rusak gara-gara banyak tambang. Saya dan anak saya jadi tidak mau mandi, takut kena gatal-gatal,” kata Lukman, Senin, 1 Juli 2019. 
 
Yuliandi, wisatawan lainya, mengatakan aktivitas tambang timah laut sudah menyentuh hampir seluruh pantai di pulau Bangka.
 
“Tidak hanya di Pantai Takari, tapi juga tambang di Rebo, Pukan, dan pantai lainnya pun demikian,” ujarnya.
 
Dampak aktivitas penambangan itu juga turut dirasakan sejumlah nelayan dan pelaku pariwisata di Pantai Rebo. Mereka menyebut penambangan mengancam para nelayan dan juga ekosistem pariwisata di wilayah pesisir. 
 
"Pariwisata dan KIP tidak bisa berdampingan. Karena pariwisata menonjolkan sisi keindahan, sementara KIP merusak. Yang kami rasakan saat ini air pantai keruh," kata Fernadi Santoso, Pelaku Pariwisata Pantai Timur dalam aksinya di Pantai Rebo, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung.
 
Para nelayan dan masyarakat Desa Rebo juga teriak meminta disahkannya kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk sektor industri ikan dan pariwisata di wilayah mereka. Surat tembusan sudah mereka layangkan untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata, hingga Presiden RI Joko Widodo untuk bisa merealisasikan keinginan nelayan dan masyarakat Desa Rebo.
 
"Kami minta segera disahkan KEK yang ada di pantai timur Sungailiat. Kami seluruh waga Desa Rebo sangat mendukung KEK. Kami ingin mengembalikan lagi keindahan Pantai Rebo. Kalau pantainya indah, terumbu karangnya indah, maka ikan akan melimpah lagi," kata Aming, Ketua RT Desa Rebo, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung.
 
Penolakan nelayan setempat terhadap keberadaan KIP tambang timah laut di perairan Bangka Belitung terutama yang terjadi di Pantai Rebo sudah cukup lama. Bahkan, beberapa kali nelayan mencoba melakukan pengusiran kapal yang beraktivitas di tengah laut tersebut.
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif