Ketua SP2ML Sumut, Baginda Siregar meminta agar PLN Sumut membatalkan program Aplikasi Catat Meter Terpusat (ACMT) dengan rasio baca selama 20 hari per petugas antara 5.600-5.700 pelanggan. Mereka meminta pejabat PLN mengembalikan kesepakatan semula menjadi rasio 1.600-1.800 pelanggan per petugas.
"PLN tidak bisa ambil keputusan secara sepihak. Program mereka membuat efisiensi pekerjaan ke depan tapi tidak pernah memikirkan pekerja," kata Baginda Siregar, di sela-sela aksi di depan Kantor PLN Sumut, Selasa (7/6/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Menurutnya dengan tingginya target yang diberikan PLN, tentu berimbas pada pengurangan pekerja. Sementara, pekerja diminta mati-matian memenuhi target walaupun kondisi di lapangan hujan bercampur petir.
"Kami sudah puluhan tahun bekerja di PLN. Gaji kami sudah sedikit malah disunat lagi sama pejabat-pejabat PLN. Jangan perlakukan kami seperti binatang. Kami juga sudah berulangkali menyampaikan aspirasi ke PLN. Tapi tidak ada tanggapan. Kalau begini terus, biar saja kami jadi teroris," urainya.
Massa lainnnya, Rahmed Manik, mengatakan kebijakan PLN Sumut juga telah melakukan PHK ratusan cater di daerah pada 21 April 2016. Jika program tetap dilaksanakan, diperkirakan ada ribuan lagi cater yang akan diberhentikan.
"PLN tidak ada itikad baik, mereka tidak bisa mengambil keputusan. Kita minta pekerja tidak di-PHK dengan sistem itu. Silahkan saja buat sistem apapun, tapi jangan ada yang di-PHK. Banyak hal-hak yang dilanggar terutama hak pekerja meter," urainya.
Aksi unjukrasa itu sempat ricuh. Pasalnya massa menuntut untuk bertemu dengan GM PLN Sumut namun tidak ditanggapi. Massa pun menggoyang pagar PLN Sumut. Aksi massa membuat Jalan KL Yos Sudarso macet total. Petugas polisi terus berjaga-jaga untuk mengantisipasi aksi kericuhan dalam aksi itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
