ilustrasi Medcom.id/ Rakhmat Riyandi.
ilustrasi Medcom.id/ Rakhmat Riyandi. (Antonio)

Jaksa Tolak Pembelaan Pembunuh Satu Keluarga

Pembunuhan di Bekasi
Antonio • 03 Juli 2019 19:33
Bekasi: Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak seluruh nota pembelaan atas kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi dengan terdakwa Harry Ari Sandigon alias Haris Simamora.
 
JPU Faris Rahman mengatakan nota pembelaan tidak dapat diterima karena uraian perbuatan terdakwa yang dibacakan justru sesuai dengan berita acara pemeriksaan di tingkat penyidikan.
 
"Penasihat hukum pada nota pembelaan mendalilkan sama sekali tidak ada unsur perencanaan sebagaimana dimaksud pasal 340 KUHP, jawaban atas dalil tersebut penuntut umun menolak secara tegas," kata Faris dalam persidangan, Rabu, 3 Juli 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi Minta Tak Dihukum Mati
 
Faris menyatakan uraian pada nota pembelaan terdakwa menjelaskan adanya upaya untuk melarikan diri usai melakukan perbuatannya. Selain itu, pada fakta persidangan juga diketahui bahwa terdakwa mengambil ponsel milik korban agar jejaknya tidak diketahui.
 
"Terdakwa juga mengambil uang Rp2 juta yang digunakan untuk melarikan diri, lalu membuang linggis, cara-cara seseorang untuk menyembunyikan perbuatannya yang sudah dipikirkan secara matang," jelas Faris.
 
Selanjutnya, sidang ditutup usai penuntut umum memaparkan jawaban atas nota pembelaan terdakwa.
 
Haris Simamora, terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi membacakan pidato pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Negeri Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin 24 Juni 2019. Dia menyesal dan meminta tak dihukum mati.
 
"Saya mohon kepada majelis hakim untuk memberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupan saya. Jika saya diberikan kesempatan, saya akan berbuat terbaik dan sebaik-baiknya bagi kehidupan bermasyarakat," kata Haris.
 
Penasihat Hukum Haris Simamora Alam Simamora mengatakan, pihaknya keberatan dengan tuntutan mati yang disampaikan penuntut umum. Ia mengatakan Haris tak tepat jika dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.
 
"Di dalam fakta persidangan tidak ada keterangan terdakwa yang mengatakan bahwa ada proses perencanaan jadi semua peristiwa itu terjadi seketika dan berlanjut," tuturnya.
 
Pihak penasihat hukum menilai tindakan Haris spontan karena tekanan psikologi berupa hinaan. "Ia melakukan perbuatan di luar kontrol karena emosi," katanya.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif