Fenomena embun beku di Dieng, Jateng. (ANT/IDHAD ZAKARIA )
Fenomena embun beku di Dieng, Jateng. (ANT/IDHAD ZAKARIA ) (Liliek Dharmawan)

Embun Beku di Dieng Jadi Magnet Wisatawan

embun upas
Liliek Dharmawan • 25 Juni 2019 11:59
Dieng: Suhu udara di sekitar Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Selasa, 25 Juni 2019, mencapai lima derajat celsius. Sementara di permukaan tanah, tercatat hingga minus tujuh derajat Celsius. Air di sekitaran candi dan embun yang ada di rerumputan maupun tanaman, menjadi butiran es warna putih. 
 
"Semalam, saya sengaja menaruh air di bak penampung kecil. Lihat saja, sekarang sudah menjadi es. Seperti es batu yang dikeluarkan dari freezer. Air membeku karena tadi malam suhu di bawah nol derajat Celsius. Sudah berhari-hari terjadi seperti ini," ungkap Saroji, 54, warga yang tinggal di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara.
 
Fenomena embun beku hampir setiap tahun muncul di dataran tinggi Dieng yang memiliki ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, tahun ini, sejak Mei sudah muncul. Kemudian pada Juni, kemunculannya semakin sering.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau tebal dan luas, maka yang terkena dampak adalah tanaman kentang. Yang terkena bun upas (embun beku), daunnya menjadi cokelat karena mengering. Jika belum berumur, maka tanaman kentang tidak dapat berbuah," katanya.
 
Satu sisi, embun beku memang mematikan bagi tanaman kentang, namun fenomena tersebut cukup menarik perhatian pengunjung. Tak hanya dari kota sekitar Dieng seperti Banjarnegara dan Wonosobo, tetapi juga dari Jakarta, Bekasi, Yogyakarta dan lainnya.
 
"Saya sengaja datang ke Dieng dan berangkat semalam. Tujuannya memang untuk melihat embun beku. Di media sosial, saya melihat seperti di Eropa. Dan fenomena itu hanya muncul ketika musim kemarau datang," ┬Łkata Ahmad, 48, salah seorang pengunjung dari Bekasi, Jawa Barat.
 
Ia mengatakan cukup terkesima dengan yang terjadi di Dieng karena ada embun yang membeku seperti salju di daerah tropis. Makanya, begitu mendengar ada embun beku, Ahmad menuju ke Dieng karena penasaran.
 
Tak hanya Ahmad, Budi, 52, warga Wonosobo juga penasaran, meski sudah berkali-kali melihat embun beku. 
 
"Sebetulnya, tidak hanya sekarang saya melihat embun beku. Tetapi karena penasaran, maka saya datang ke sini. Tadi berangkat jam 04.30 WIB dari rumah. Lumayan, masih bisa melihat bun upas," ┬Łujarnya.
 
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Obyek Wisata Dieng, Aryadi Darwanto, mengakui fenomena embun beku menjadi salah satu magnet wisawatan. Dia mengungkap, wisatawan yang datang ke negeri di atas awan itu meningkat signifikan hingga 100 persen. 
 
"Hari biasa hanya 3.000 pengunjung, setelah ada embun beku meningkat jadi 7.000 pengunjung. Bahkan, akhir pekan jumlahnya mencapai 17 ribu wisawatan, juga meningkat hampir 100 persen," jelas Aryadi.
 
Aryadi mengatakan, pihaknya secara aktif mengunggah fenomena embun beku ke media sosial, terutama Instagram. Dia menerangkan, setelag diunggah di media sosial, banyak komentar juga pertanyan terkait embun beku. 
 
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie mengungkap, kalau embun beku kemungkinan masih tetap akan muncul.  Apalagi saat puncak kemarau nanti. 
 
"Karena saat kemarau, suhu cenderung lebih rendah, bahkan bisa ekstrem," jelasnya. 
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif