"Bapak begitu sangat mencintai seni dan budaya. Beliau sangat ingin kembali ke Jogja dan menjadi penyair lagi. Bahkan, beliau sudah menyiapkan tempat tinggal khusus di kaki Gunung Merapi," kata Aryaning Arya Kresna, putra Darmanto, di kompleks pemakaman Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Senin, 15 Januari 2018.
Menurut Arya, tempat untuk menyepi ayahnya sudah selesai dibangun pada 2014. "Kita bangun dari 2001. Tapi, saat itu bapak masih banyak kerjaan di Semarang dan kota-kota lain. Jadi, belum bisa istirahat," terangnya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
(Baca: Mengenang Budayawan Darmanto)
Mendekati masa pensiun, pada 2007 Darmanto justru terserang stroke. Kemudian, pada 2016 diketahui jika Guru Besar Emeritus Universitas Diponegoro (Undip) itu menderita kanker kandung kemih.
"Ini efeknya sangat cepat," ungkap Arya.
Menurut Arya, semasa hidup, Darmanto merupakan pribadi yang liberal. Dalam mendidik anak-anaknya, Darmanto tidak pernah memaksakan kehendak.
"Bapak tidak pernah memaksakan kamu harus begini, harus jadi ini, dan harus begitu. Bapak membebaskan kami memilih apapun menjadi siapapun," ujar pria yang menjadi dosen tersebut.
Darmanto Jatman masuk ke RSUP Kariadi sejak 3 Januari 2018. Penyair itu meninggal dalam usia 75 tahun pada Sabtu, 13 Januari 2018.
(Baca: Budayawan Darmanto Jatman Tutup Usia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(NIN)
