Diskusi bahas gelar pahlawan nasional untuk Ratu Kalinyamat digelar di Jepara, Jawa Tengah, pada Minggu, 10 Maret 2019. Medcom.id/Rhobi Shani
Diskusi bahas gelar pahlawan nasional untuk Ratu Kalinyamat digelar di Jepara, Jawa Tengah, pada Minggu, 10 Maret 2019. Medcom.id/Rhobi Shani (Rhobi Shani)

Pemkab Jepara Dukung Gelar Pahlawan untuk Ratu Kalinyamat

pahlawan
Rhobi Shani • 10 Maret 2019 21:38
Jepara: Pemerintah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mendukung usaha Yayasan Dharma Bakti Lestari mendorong pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional untuk Ratu Kalinyamat. Pemkab Jepara sendiri sudah dua kali mengusulkan gelar itu namun tak pernah berhasil.
 
“Kami pernah mengusulkan kepada pemerintah pusat. Tahun 2005 bersama pusat penelitian dari Universitas Diponegoro dan 2016 bersama UGM (Universitas Gajah Mada),” ujar Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dalam sambutannya yang dibacakan Kabag Kesra Pemkab Jepara, Suhendro, Minggu, 10 Maret 2019.
 
Bupati Jepara mengaku kecewa lantaran usulannya tak diterima pemerintah pusat. Alasan penolakan gelar pahlawan nasional bagi Ratu Kalinyamat dinilai salah tafsir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Alasannya tapa wuda sinjang rekma. Kalimat itu kiasan. Jadi yang dimaksud itu bukan bertapa tanpa busana, tapi yang dimaksud itu Ratu Kalinyamat meninggalkan urusan keduniawian,” kata Marzuqi.
 
Sebagai seorang raja, lanjut Marzuqi, Ratu Kalinyamat meninggalkan kerajaan. Menanggalakn kemewahan sebagai ratu. Kemudian mengasingkan diri ke tempat terpencil.
 
“Ini adalah perjuangan yang sangat luar biasa. Jadi jangan hanya dilihat tapa wuda sinjang rekma karena ada perbedaan penafsiran,” ungkap Marzuqi.
 
Baca: Ratu Kalinyamat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
 
Yayasan Dharma Bakti Lestari kembali menggelorakan usulan gelar pahlawan nasional untuk disematkan kepada Ratu Kalinymat. Itu setlah melakukan kajian akademik dan sejumlah penelitian. Juga melihat sepak terjang Ratu Kalinyamat dalam usaha mengusir Portugis dari tanah nusantara.
 
“Bukti-bukti dan kajian-kajian sudah kami lakukan. Pemkab Jepara juga memberikan dukungan,” ujar Nur Hidayat, perwakilan Yayasan Dharma Bakti Lestari.
 
Nur Hidayat juga menegaskan, tapa wuda sinjang rekma yang dimaksud bentuk sikap intropeksi diri Ratu Kalinyamat. Itu diketahui dari hasil penelusuran yang dilakukan tim peneliti.
 
 “Jadi pemaknaan yang dilakukan pemerintah masih terlalu dini. Pemerintah memaknainya tapa wuda sinjang rekma itu secara fisik bertapa telanjang. Jadi bukan itu,” tandas Nur Hidayat.  
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif