Tiga Pasar Bersejarah di Solo yang Terbakar
Kebakaran di Pasar Legi pada Senin, 29 Oktober 2018, MI - Widjajadi
Solo: Senin sore, 29 Oktober 2018, api berkobar di Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah. Peristiwa itu menambah panjang daftar bangunan pasar bersejarah di Solo yang terbakar.

Kobaran api mengakibatkan warga dan pedagang berlarian menyelamatkan diri. Ribuan kios, los, dan ruko hangus terbakar. 

Selama beberapa hari, pedagang tak dapat menebar lapak. Mereka menunggu janji pemerintah kota membangun pasar darurat.


Baca: Pembangunan Kios Darurat Pedagang Pasar Legi Dikebut

Namun pada Senin, 5 November 2018, pasar darurat belum disediakan. Pedagang pun nekat berjualan di pinggir jalan, dekat Pasar Legi.

Pasar Legi merupakan bangunan pasar ketiga bersejarah yang terbakar. Bangunannya merupakan warisan Mangkunegara I pada tahun 1700-an.

Empat tahun sebelumnya, Pasar Klewer terbakar ludes. Lalu pada 2000, sejarah mencatat kebakaran menghanguskan Pasar Gede. Korsleting listrik dianggap sebagai penyebab api berkobar.


(Pedagang Pasar Legi berjualan di pinggir jalan, Medcom.id - Pythag Kurniati)

Sejarawan Surakarta Heri Priyatmoko mengaku menyayangkan kejadian itu. Sebab, ketiga pasar tercatat dalam sejarah sebagai penyangga ekonomi lokal, regional, dan nasional.

"Tiga pasar itu berangkat dari tipologi pasar tradisional yang mampu menciptakan kehidupan sosial budaya," kata Heri kepada Medcom.id, Selasa, 6 November 2018.

Tiga pasar itu dibangun di era Bangsa Indonesia belum merdeka. Kejayaan jual beli di tiga pasar pun dirasakan saat penjajah menduduki Tanah Air.

Masing-masing pasar memiliki kekhasan, dari sisi fungsi maupun arsitektur. Pasar Legi merupakan pasar induk yang mencukupi kebutuhan pangan. Pasar Klewer merupakan pasar sandang terbesar di Indonesia.

Sedangkan Pasar Gede mencerminkan keharmonisan antaretnis. Dari tiga bangunan itu, hanya Pasar Gede yang berstatus sebagai benda cagar budaya.



(Potret di Pasar Legi Solo, sembilan tahun sebelum terbakar pada 29 Oktober 2018, MI - Ferdinand)

Pasar 'Warisan'

Pasar Legi merupakan pasar warisan Mangkunegara I pada tahun 1700-an. Pasar pernah mengalami perubahan bentuk sedikitnya tiga kali.

"Awalnya Pasar Legi dibuat sangat sederhana. Para pedagang hanya beralaskan karung saat berjualan," kata Heri.

Kemudian masa Mangkunegara VII pada 1936 membangunnya dengan bentuk lebih modern dengan tembok-tembok bak benteng pertahanan perang kala itu.

Pasar Legi kembali dibangun pada 1992 yang bentuknya terus bertahan hingga saat ini. Namun karena terbakar, pemerintah berencana membangun ulang dengan konsep lain.

Sejak dahulu, pasar ini terus menjadi sentra bahan pangan di Solo dan sekitarnya. Pasar Legi menjadi ladang penghasilan bagi ribuan pedagang, kuli angkut dan pekerja lain.


(Suasana di depan Pasar Klewer Solo, 22 April 2017, MI - Ferdinand)

Pasar 'Teras' Alun-alun

Pasar Klewer dibangun pada era Pakubuwono X yang memimpin Keraton Kasunanan Surakarta pada 1893-1939. Pasar Klewer, Masjid Agung, dan alun-alun menjadi satu kesatuan. Sehingga Pasar Klewer seolah menjadi teras alun-alun.

"Tata ruang kota di Jawa memang selalu memadukan alun-alun, masjid dan pasar," ungkap Heri.

Dinamakan Klewer karena dahulu barang dagangannya tidak ditata secara rapi alias pating klewer. Namun setelah pasar dibangun di era Soeharto tahun 1971, pasar menjadi lebih modern.

Kebakaran pada akhir tahun 2014 membuat pemerintah harus membangun ulang pasar. Kini pasar dibangun menyesuaikan zamannya.


(Kegiatan di depan Pasar Gede, 22 Januari 2017, MI - Widjajadi)

Pasar Simbol Multietnis

Nama lengkapnya Pasar Gede Hardjonagoro. Dua bangunan kembar Pasar Gede ini dibangun di masa Pakubuwono X dengan arsitek Thomas Karsten.

Namun yang paling menarik dari pasar ini ialah sejarah interaksi sosialnya. Pasar menjadi simbol kerukunan antaretnis, terutama Jawa dan Tionghoa.

"Pasar Gede apabila dimaknai sebagai ruang sosial merupakan rumah asri yang mewadahi dan memotret kohesi sosial antara komunitas Tionghoa dan Jawa dari waktu ke waktu," ujar dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu.

Bahkan sampai sekarang kita bisa menemukan kampung pecinan di sekitar Pasar Gede, yakni kampung Balong. Masyarakat keturunan Cina itu juga banyak dijumpai berdagang di Pasar Gede.

Setiap Imlek, pemandangan lampion dan berbagai gelaran apik sebagai wujud akulturasi antara dua budaya. Ini merupakan langkah pemerintah menghilangkan stigma Solo yang bersumbu pendek terhadap isu rasial.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id