Petugas sedang mencari sumber air (ilustrasi). (Ant/Slamet Agus Sudarmojo)
Petugas sedang mencari sumber air (ilustrasi). (Ant/Slamet Agus Sudarmojo) (Ahmad Mustaqim)

Pengamat Sebut Yogyakarta Krisis Tanah

hari air sedunia
Ahmad Mustaqim • 22 Maret 2016 15:31
medcom.id, Yogyakarta: Air tanah di Yogyakarta menurun 15 sampai 50 centimeter tiap tahun. Persediaan air di Kota Pelajar itu disebut tidak mencukupi kebutuhan.
 
Peneliti Pusat Studi Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurno menyebut sejumlah faktor jadi pemicu turunnya volume air tanah.
 
Pertama, cukup masifnya pendirian hotel maupun hunian vertikal lain. Bangunan itu mengambil air dari tanah dengan kedalaman sekitar 100-an meter. Itu menyebabkan air tanah yang berada di posisi puluhan meter ikut turun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Faktor kedua, kondisi air tanah di Yogyakarta yang semakin menurun tidak diimbangi dengan kepedulian warga yang bijak menggunakan air.
 
"Sumber air yang seperti di lereng Merapi bisa juga sampai wilayah dataran rendah di Yogyakarta. Tapi itu tidak banyak. Warga itu memanen (air) terus tapi tidak pernah menanam," ucap Eko kepada Metrotvnews.com, di Yogyakarta, Selasa (22/3/2016).
 
Kebutuhan warga Yogyakarta terhadap air terbilang tinggi. Jika warga biasa dalam sehari rata-rata menghabiskan 125 liter, sementara orang yang berada di hotel atau hunian vertikal lain bisa menghabiskan 350 liter per hari.
 
"Ini jadi peringatan warga Yogyakarta di Hari Air Sedunia yang diperingati tiap 22 Maret," kata Eko.
 
Geolog UPN Veteran Yogyakarta ini menyatakan, tak ada solusi lain selain masyarakat Yogyakarta harus memperbaiki tata kelola air tanah. Langkah yang bisa dilakukan yakni dengan menumbuhkan kesadaran menanam air.
 
Langkah menanam air itu bisa dengan cara membuat sumur resapan maupun tempat penampungan air hujan di dalam tanah. Menurut dia, hal itu tak hanya harus dilakukan warga Yogyakarta, namun juga para pejabat di instansi pemerintah dan juga perumahan.
 
"Kondisi air tanah sekarang sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan," jelasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif