Penyusuran dimulai dari kawasan Serenan, Sukoharjo hingga kawasan Sewu, Jebres. "Menyusuri sungai sejauh 15 kilometer tadi, hati saya menangis," ungkap Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.
Menurut wali kota yang akrab disapa Rudy itu, keadaan Bengawan Solo telah jauh berubah. "Saya lihat tadi banyak sampah tersangkut di pohon," jelas Rudy.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Selain itu kondisi air menjadi keruh. Hal tersebut tak lepas dari pengaruh sampah dan limbah yang sembarangan dibuang ke sungai.
Rudy menambahkan, sewaktu berusia sembilan tahun hingga 15 tahun tiada hari ia lewati tanpa bermain air di sungai. "Saya berenang dari Jembatan Bacem hingga Jurug. Dulu tidak seperti ini, airnya masih jernih," tambahnya.
Selain menemukan banyak sampah, Rudy juga mencatat ada beberapa titik pendangkalan sungai.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Yudi Pratondo menjelaskan, saat ini beban sungai semakin berat. "Sampah dan air limbah dibuang ke sungai. Seharusnya kita bisa mengurangi beban sungai," ujar Yudi.
Tak hanya itu, debit sungai pun berubah-ubah secara signifikan lantaran tanah tidak bisa menyerap air. "Hari ini debit sungai 200 meter kubik per detik. Minggu lalu 1.200 meter kubik per detik. Ada disparitas yang cukup tinggi," kata dia.
Di hari air sedunia, Yudi mengajak masyarakat peduli terhadap keberadaan air bersih. "Ini momentum yang tepat bagi kita untuk menjaga air," tutup dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
