Pentas Wayang dalam rangka hari air sedunia -- MTVN/Pythag Kurniati
Pentas Wayang dalam rangka hari air sedunia -- MTVN/Pythag Kurniati (Pythag Kurniati)

Pesan Merawat Beningnya Air Melalui Wayang

hari air sedunia
Pythag Kurniati • 22 Maret 2017 12:59
medcom.id, Solo: Semar sebagai pamong tanah Jawa pergi menemui Sang Hyang Wenang untuk mengutarakan kegelisahan hati. Ia ingin mencari pencerahan mengenai 'toya wening' (air jernih).
 
Semar gelisah, lantaran masyarakat mulai lupa pentingnya air bersih. Mencari air jernih di tlatah Jawa semakin lama semakin sulit.
 
Sang Hyang Wenang pun memberikan nasihat untuk menjaga toya wening. Semar diminta menyampaikan cara menjaga kejernihan air, karena air adalah sumber kehidupan mahkluk hidup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Petuah tersebut dikemas menarik dalam pagelaran wayang kulit Keroncong Wayang Gendut (Congwaydut). Pentas berdurasi sekitar tiga jam itu diselenggarakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Solo.
 
Pementasan digelar pada Selasa, 21 Maret 2017 malam hingga Rabu, 22 Maret 2017 dini hari. Pertunjukan itu dalam rangka Hari Air Sedunia yang jatuh setiap 22 Maret.
 
Dalang Dwi Suryanto, 36, mengatakan, 'Toya Wening' dipilih sebagai judul cerita karena berarti air yang bening atau jernih. Seperti itulah pesan yang ingin disampaikan.
 
"Masyarakat diharapkan bisa menjaga kejernihan air," jelas Dwi, Rabu, 23 Maret 2017.
 
Beberapa pesan terselip dalam dialog tokoh-tokoh pewayangan. Antara lain, agar tidak membuang hajat dan sampah sembarangan demi menjaga kemurnian air.
 
Wayang bagi Dwi adalah sebuah media edukasi yang efektif. "Dalam perkembangannya, dahulu wayang digunakan untuk dakwah. Menyebarkan paham. Kesenian asli Jawa ini akan lebih mengena ke masyarakat," tuturnya.
 
Menariknya, panggung pementasan wayang mengambil latar belakang bangunan ponten. Bangunan tersebut didirikan Sri Mangkunegara VII dan menjadi penanda sistem sanitasi di era kolonial, tepatnya pada 1936.
 
"Bahwa sanitasi sudah dimulai sejak zaman itu," ungkap Direktur Teknik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tri Atmojo Sukomulyo.
 
Era tersebut, kata Tri, masyarakat mengalami suatu wabah penyakit. Salah satunya disebabkan sanitasi yang tidak memenuhi syarat.
 
"Akhirnya dibangunlah ponten. Sebagai tempat untuk mandi, cuci dan kakus," jelas dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(NIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif