Kegiatan itu diadakan Komunitas Wirausaha Muslim (KWM) untuk menyiarkan ajaran Islam dengan cara yang berbeda. Sekitar puluhan nonik-nonik cantik berlomba mengkreasikan hijab.
"Kegiatan ini diikuti puluhan muallaf Tionghoa. Kami ingin berpartisipasi bahwa Imlek itu milik bersama. Bukan hanya milik mereka yang merayakan di Wihara, tapi semua warga Tionghoa," kata Hasan Basri (Liem Fuk Shon), Ketua Harian Yayasan H Moh Cheng Ho di Surabaya, Kamis (19/2/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ia mengaku kegiatan itu untuk menjalin silaturahmi sesama mualaf warga Tionghoa. "Silaturahminya pas momen imlek dikemas dengan kegiatan lomba kreasi hijab," katanya.
Di tempat yang sama, Humas Komunitas Wirausaha Muslim, Wirawan Dwi, menambahkan kegiatan itu sebagai upaya untuk memotivasi mualaf muslimah Tionghoa menutup aurat mereka.
"Mereka (mualaf Tionghoa) kan belum terbiasa memakai hijab, dengan adanya kegiatan ini mereka bisa termotivasi untuk menutup auratnya. Sedikit demi sedikit mereka harus mengubah kebiasaan yang dulu biasa mereka lakukan," terangnya.
"Dengan begitu mereka sadar, meski seluruh anggota tubuhnya ditutupi, mereka tetap cantik dan menunjukkan jati diri serta kepribadiannya," tuturnya.
Acara itu juga menunjukkan identitas muslim dan muslimah kepada masyarakat luas. Sehingga warga nonmuslim pun dapat mengenal Islam.
"Jadi, identitas kemusliman para muallaf itu akan terlihat dan dapat menjadi syiar tersendiri. Dengan begitu islam dikenal di kalangan mereka dan bisa menambah muallaf dengan model getok tular," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
