Culturepreneurship: Kreasi Budaya dan Industri yang Inovatif

M Studio 16 November 2018 12:56 WIB
UNPAR
Culturepreneurship: Kreasi Budaya dan Industri yang Inovatif
UNPAR menggelar Seminar Nasional bertajuk Culturepreneurship pada Sabtu, 3 November 2018 (Foto:Dok.UNPAR)
Bandung: Peserta seminar Culturepreneurship berdecak kagum saat tiga orang berbusana dengan konsep Garuda dan Kujang memasuki Aula Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Bak peragawan dan peragawati profesional, mereka melenggang dengan anggun, menebar senyum kepada peserta, sambil sesekali berpose di depan kamera.

Kostum mereka yang megah didesain dengan tema kebudayaan lokal Indonesia, yang dengan bangga ditampilkan hingga mancanegara. Ketiganya diboyong langsung oleh Dynand Fariz, pencetus Jember Fashion Carnaval (JFC) yang rutin diselenggarakan sejak 2003. 

Kehadiran tiga peserta JFC ini mewarnai Seminar Nasional bertajuk Culturepreneurship pada Sabtu, 3 November 2018. Seminar ini bertujuan mencari esensi entrepreneurship. Seminar diawali kata sambutan oleh Rektor UNPAR Mangadar Situmorang PhD, dan dipandu dosen kewirausahaan di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Filsafat UNPAR Dr Elvy Maria Manurung. 


Mengantar peserta memaknai kewirausahaan budaya, Guru Besar Fakultas Filsafat Prof Bambang Sugiharto membuka pemaparan lewat wawasan singkat mengenai kebudayaan, kewirausahaan, serta esensi kewirausahaan budaya. 

Bagi Prof Bambang, kewirausahaan budaya merupakan bagian dari pengembangan kebudayaan suatu masyarakat untuk mencapai suatu nilai yang lebih. “Culturepreneurship adalah bagian dari strategi kebudayaan,” ucap Prof Bambang.

Alumnus Manajemen UNPAR Satria Yanuar Akbar turut berbagi ilmu dan pengalamannya dalam mengelola potensi budaya menjadi industri pariwisata dalam kerangka culturepreneurship. Dia baru saja terlibat dalam Matasora World Music Festival serta Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL). 

Berawal dari keinginan pemerintah Bitung untuk meningkatkan pariwisata, FPSL telah diadakan selama tiga tahun, meskipun baru tahun ini dikelola dengan manajemen modern yang ia bawahi. 

 

“Saya melihat bahwa masa depan sektor ini sangat tinggi. Kebanggaan atas identitas lokal makin muncul dan berkembang,” ucap Satria tentang culturepreneurship. Apalagi, dengan munculnya fenomena glokalisasi, publik kini berlomba mengemas budaya mereka dan menjualnya kepada komunitas global untuk dinikmati bersama. 

Pembicara terakhir, Dynand Fariz, menceritakan pengalamannya menjadikan JFC sebagai ajang karnaval dunia. Dimulai dari kreasi keluarga, Dynand mampu menginisiasi ajang busana internasional yang diikuti oleh 3 ribu peserta dan dihadiri oleh lebih dari 350 ribu orang setiap tahunnya, serta menempatkan Jember sebagai kota karnaval dunia. 

Dia ingin menginspirasi peserta seminar untuk berkreasi sambal memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat internasional. “Pada prinsipnya semua teman-teman ini punya kesempatan untuk berkarya, berkarya untuk bangsa Indonesia,” ujarnya. 

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Filsafat C Harimanto Suryanugraha OSC beserta jajarannya. Peserta seminar yang memadati ruangan Aula berasal dari kalangan mahasiswa, baik dari Fakultas Filsafat konsentrasi filsafat budaya maupun dari program studi lain, serta masyarakat umum. Seminar juga diisi dengan penampilan kebudayaan, sesi diskusi dan tanya jawab.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id