Bangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu yang keberadaannya dipersoalkan warga. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Bangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu yang keberadaannya dipersoalkan warga. Medcom.id/Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Polisi Siap Kawal Gereja yang Ditolak Warga Bantul

gereja
Ahmad Mustaqim • 10 Juli 2019 13:22
Bantul: Kepolisian di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta siap menjaga keamanan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu yang ditolak warga. Warga diminta tak memaksakan ego di tengah kondisi bangsa yang majemuk.
 
Kepala Polsek Sedayu Komisaris Sugiarta mengakui jemaat GPdI Immanuel Sedayu dipermasalahkan karena perizinan dan berada di lingkungan mayoritas beragama Islam. Mereka sebagai warga negara belum memiliki tempat ibadah sesuai dengan keyakinannya.
 
Dia pun mengkritik warga sekitar yang tidak memberi ruang ke agama lain untuk beribadah sesuai kepercayaan. "Bangsa ini berdiri berdiri bukan cuma umat Islam yang berjuang. Ada orang Jawa, orang Sumatera, Bali, Kalimantan. Jangan kau dustakan," ujarnya di Kecaatan Sedayu pada Selasa, 9 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengutip surat Ar Rahman yang mengingatkan muslim untuk tidak mendustakan orang yang ikut berjuang bersama. Padahal, Indonesia dibangun bersama-sama oleh masyarakat yang majemuk. "
 
Mereka punya hak yang sama. Jadi kalau sudah punya keyakinan harus disamakan, tidak boleh pak," tegasnya.
 
Baca: Mediasi Buntu, Warga Bantul Diminta Tak Bergejolak Soal Gereja
 
Setiap kelompok agama tak bisa serta merta harus digabungkan, bahkan sesama umat Islam. Ia mencontohkan keberadaan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang juga memiliki perbedaan. Kedua kelompok tersebut memiliki hak berjalan sesuai keyakinan masing-masing.
 
"Tidak cocok ya jangan dicampur, biarlah sendiri-sendiri yang penting rukun. Orang MTA sama LDII biarkan mereka sendiri-sendiri, yang penting mereka rukun," katanya.
 

Polisi Siap Kawal Gereja yang Ditolak Warga Bantul
Pendeta Tigor Yunus Sitorus saat menunjukkan IMB di GPdI Immanuel Sedayu. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
 
Masyarakat seharusnya bisa legawa dalam menerima perbedaan keyakinan. Ia mengatakan keyakinan menjadi urusan masing-masing yang sudah dijamin negara.
 
"Bahkan saya seorang muslim, tidak ada paksaan untuk memeluk keyakinan itu. Keyakinan anda ya harus (dijalankan). Apa yang kau yakini ya lakukanlah, apa yang ku yakini aku lakukan dan aku teguh memegang keyakinanku," kata dia.
 
Dia meminta masyarakat bisa berpikir lebih dewasa. Selain itu, masyarakat masih perlu berpikir positif dan lebih maju. Menurutnya, menilai kelompok lain salah dan menganggap kelompok sendiri paling benar tak elok dilakukan.
 
"Ketika keyakinan anda kepada Tuhan Yang Maha Kuasa mengajarkan kasih sayang, lakukanlah tanpa pandang bulu. Orang muslim membantu jangan hanya orang muslim saja. Orang Bali orang Hindu di jalan sakit, ya ditolong. Tabrakan ya ditolong. Nasrani lewat di jalan harus ditanya agamanya apa? Kalau tolong ya tolong aja. Itu yang diajarkan Tuhan," ujarnya.
 
Baca: Mengantongi IMB, Keberadaan Gereja di Bantul Ditolak Warga
 
Ia memahami pemerintah memiliki tugas memenuhi hak warganya, termasuk untuk menjalankan beribadah. Jika pemerintah bisa menyediakan lokasi yang lebih baik tentu akan jadi solusi.
 
"Jangan sampai ada intoleransi. Itu menandakan kita tidak dewasa, itu menandakan kita egois. Orang egois adalah orang yang paling tolol," kata dia.
 
Keberadaan GPdI Immanuel Sedayu jadi persoalan bagi warga muslim di RT 34 Dusun Gunungbulu, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Warga mempersoalkan izin bangunan yang semula sebagai tempat tinggal kini menjadi tempat ibadah. Pemerintah Kabupaten Bantul telah mengeluarkan IMB itu dengan nomor register 0116/DPMPT/212/I/2019 pada 15 Januari 2019.
 
Penolakan itu telah dimediasi di tingkat Kecamatan Sedayu pada Selasa, 9 Juli 2019. Proses mediasi yang berlangsung lebih dari dua jam itu tak menemui titik temu. Pemerintah kecamatan setempat menyerahkan hasil mediasi itu ke tingkat Pemerintah Kabupaten Bantul.
 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif