Bangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu yang keberadaannya dipersoalkan warga. Medcom.id/Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)
Bangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu yang keberadaannya dipersoalkan warga. Medcom.id/Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim) (Patricia Vicka)

Sultan Tegaskan Kearifan Lokal Tidak Boleh Larang Orang Beribadah

gereja
Patricia Vicka • 10 Juli 2019 15:21
Yogyakarta: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X angkat bicara terkait penolakan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY. Ia menegaskan kearifan lokal tidak boleh melarang orang beribadah.
 
Sri Sultan mengaku belum mengetahui duduk perkara secara detail. Ia masih mengumpulkan informasi dari berbagai pihak soal penolakan gereja ini.
 
"Saya belum tahu persis. Nanti saya cek lagi dasarnya apa," kata Sultan usai menghadiri di Markas Polda DIY, Rabu 10 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Mengantongi IMB, Keberadaan Gereja di Bantul Ditolak Warga
 
Warga muslim di RT 34 Dusun Gunungbulu, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul mempersoalkan pendirian gereja di dusun mereka. Kegiatan ibadah itu dikhawatirkan akan memengaruhi kepercayaan mereka dan merusak kearifan lokal.
 
Penolakan warga tersebut menurut Sultan seharusnya tidak terjadi. Alibi warga yang khawatir kegiatan ibadah merusak kearifan lokal dinilai tak berdasar. Apalagi Gereja Kristen Pentakosta ini sudah mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) dari Pemerintah Kabupaten Bantul sejak 15 Januari 2019.
 
"Mestinya tidak ada alasan. Kearifan lokal tidak boleh melanggar hukum," tegas Raja Yogyakarta ini.
 
Baca: Polisi Siap Kawal Gereja yang Ditolak Warga Bantul
 
Sri Sultan pun mendukung pendirian bangunan gereja ini. Lantaran pengurus gereja sudah mengantongi IMB.
 
"Ya tempat ibadah kalau memang sudah disetujui bangun saja," pungkasnya.
 
Bangunan GPdI Immanuel Sedayu didirikan oleh Pendeta Tigor Yunus Sitorus pada 2003. Awalnya Pendeta Tigor membangun rumah pribadi di atas sebidang tanah seluas 335 meter persegi. Sebagian bangunan rumah itu dijadikan tempat ibadah umat kristen di wilayah Sedayu dan sekitar. 
 
Pemerintah Kabupaten Bantul telah mengeluarkan IMB gereja dengan nomor register 0116/DPMPT/212/I/2019 pada 15 Januari 2019. Namun, pada Selasa, 9 Juli 2019, warga disekitar mempersoalkan izin bangunan tersebut dan menolak rumah dijadikan gereja .
  
Penolakan warga telah dimediasi di tingkat Kecamatan Sedayu pada Selasa, 9 Juli 2019. Proses mediasi yang berlangsung lebih dari dua jam itu tak menemui titik temu. Pemerintah kecamatan setempat menyerahkan hasil mediasi itu ke tingkat Pemerintah Kabupaten Bantul.  
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif